Aq ada ringtone favorite buat hp, selalu jadi bahan tertawaan teman-teman di kampus pasca MM, kantor, n orang-orang pas jalan-jalan di MALL
http://www.rifqibiru.com/download/Muach.rar
nama file ringtone : Muach.mp3
Aq ada ringtone favorite buat hp, selalu jadi bahan tertawaan teman-teman di kampus pasca MM, kantor, n orang-orang pas jalan-jalan di MALL
http://www.rifqibiru.com/download/Muach.rar
nama file ringtone : Muach.mp3
Banyak orang setuju kalau kesetiaan adalah kunci dari kesuksesan sebuah hubungan. Tapi nyatanya banyak yang diam-diam berselingkuh. Seorang psikolog, Paula Hall mengungkapkan mengapa orang memiliki affair dan memberi tips agar hubungan bisa bertahan menghadapinya.
Kenapa Ada Perselingkuhan ?
Kita bisa mencari banyak alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tetapi biasanya selingkuh adalah tanda adanya keinginan untuk perubahan. Ada sesuatu dalam diri pasangan atau dalam hubungan yang sedang dijalani, tidak sesuai dengan harapan. Dan perselingkuhan memicu perubahan tersebut. Perselingkuhan tidak melulu soal seks. Keintiman yang terjadi antara dua orang dan melanggar kepercayaan pasangannya bisa merupakan sebuah affair.
Tipe-tipe perselingkuhan
Meski banyak alasan mengapa orang berselingkuh, kita bisa menggolongkan affair menjadi beberapa kategori :
The boat-rocking affair - Terjadi ketika seseorang merasa tidak puas dengan hubungannya. Perselingkuhan tanpa disadari menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah dan membuatnya muncul ke permukaan. Affair jenis ini selalu timbul tenggelam.
The exit affair - Terjadi ketika perselingkuhan dijadikan cara untuk lepas dari sebuah hubungan. Bukannya menghadapi masalah dengan pasangannya, ia malah memilih lari dalam perselingkuhan.
The thrill affair - Sebuah hubungan yang terlarang bisa menimbulkan sensasi tersendiri, rasa deg-degan karena takut ketahuan memompa adrenalin dalam tubuh, sehingga hubungan seks yang dilakukan dengan seseorang yang baru terasa begitu menggairahkan. Perselingkuhan pun menjadi terasa romantis dan menarik. Selingkuh itu indah, begitu prinsip mereka.
The three’s company affair - Sebuah affair yang berlangsung tahunan ; bisa disebut juga affair berturut-turut. Ada sebagian orang yang merasa tidak bisa berkomitmen dengan satu orang, orang-orang dalam golongan ini merasa tercekik dalam hubungan monogami. Kehadiran orang ketiga bisa menjadi penyaluran dalam masalah emosi tadi.
Ketika Affair Terbongkar
Saat rahasia akhirnya terkuak, baik berangsur-angsur atau tiba-tiba, shock adalah perasaan yang pertama akan Anda alami. Ketika shock telah lewat, perasaan yang tertinggal adalah marah, sedih, bingung dan mungkin merasa dipermalukan, terutama jika Anda yang melakukan affair.
Kebanyakan orang akan terus bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi dan berpikir adakah kemungkinan hubungan mereka bisa diselamatkan.
Kepercayaan adalah resep sebuah hubungan yang sehat dan sering kita abaikan. Kalau Anda adalah pihak yang berselingkuh, Anda harus bekerja dengan keras untuk meyakinkan pasangan bahwa ia adalah cinta sejati Anda dan Anda telah belajar banyak dari kesalahan yang dibuat.
Bagaimana kalau pasangan kita yang berselingkuh ? Anda mungkin akan terus mempertanyakan diri sendiri untuk waktu yang lama. Tetapi ketika masa itu telah lewat, hubungan yang dimiliki akan lebih dilandasi rasa percaya dan rasa aman.
Butuh waktu sebentar untuk menghancurkan kepercayaan, tetapi butuh waktu yang sangat lama untuk membangunnya. Pada mulanya mungkin Anda akan merasa bahwa hubungan tidak akan kembali normal, tetapi dengan kesabaran dan niat yang kuat, semua akan bisa bertahan. Jika dirasa perlu, Anda dan pasangan bisa mendatangi lembaga konseling perkawinan untuk meminta saran. Perselingkuhan adalah titik balik perubahan sebuah hubungan, tetapi tidak selalu tanda akhir dari hubungan.
Rasulullah Saw. Bersabda,”Tidak dapat menolak takdir kecuali berdoa. Dan tidak dapat menambah usia kecuali berbuat baik. Maka sesungguhnya orang laki-laki bisa terhalang rezekinya karena dosa yang dikerjakannya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa melakukan dosa dapat menyebabkan terhambatnya rezeki, khususnya dosa akibat berdusta. Karena dusta itu dapat menyebabkan kefakiran.
Tidur pagi dapat menyebabkan miskin harta juga miskin ilmu. Ada orang yang berkata, “Bahagianya orang itu jika mengenakan pakaian, Adapun cara mengumpulkan ilmu adalah meninggalkan tidur.”
Penyair berkata, “Bukankah termasuk kerugian bila malam-malam dibiarkan berlalu tanpa guna, padahal malam itu dihitung jatah umur.”
Ada yang berkata bahwa barangsiapa yang sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak berguna, maka dia kehilangan sesuatu yang berguna baginya.
Imam Bazrajamhar berkata, “Jika kamu melihat orang yang banyak bicara, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang gila.”
Sayyidina Ali ra. Berkata, “Bila sempurna akal seseorang, niscaya ia sedikit berbicara.” Perkataan Sayyidina Ali tersebut sesuai dengan kandungan syair ini, “Jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya. Dan ketahuilah bahwa orang yang banyak bicara itu hakikatnya adalah orang bodoh.” Penyair lain berkata, “Berbicara itu laksana hiasan, sedangkan diam adalah keselamatan. Oleh karena itu, jangan banyak bicara. Berbicaralah seperlunya. Kamu bisa menyesal satu kali karena diam. Tetapi kamu bisa menyesal beberapa kali karena bicara.”
Kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata “Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama Islam, shalat misalnya.
Tidak ada seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus hanya dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan, Allah Ta’ala mengangkut derajat Nabi Adam as. Di atas para malaikat.
Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah dalam syairnya “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.”
Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan dirinya, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Karena Islam akan tetap lestari kalau pemeluknya/umatnya berilmu.
Syaikh Burhanuddin menukil perkataan para ulama berikut : “Orang yang tekun beribadah tapi bodoh, bahayanya lebih besar daripada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, dan tidak layak dijadikan panutan.”
Syaikh Imam Hammad bin Ibrahim membacakan syairnya Abi Hanifah : “Siapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memperoleh anugerah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menuntut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat.”
Hal itu perlu direnungkan oleh para penuntut ilmu, supaya ilmu yang mereka cari dengan susah payah tidak sia-sia. Oleh karena itu dalam mencari ilmu jangan punya niat untuk mencari dunia yang hina dan fana. Seperti kata sebuah syair : “Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah sihir yang dapat menipu orang tuli dan buta. Mereka adalah orang-orang bingung tak tentu arah, karena jauh dari petunjuk.”
Apa pun yang anda lakukan, maka lakukanlah itu dengan penuh percaya diri dan
keyakinan. Kedua kualitas tersebut sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari, dan barangkali akan lebih penting lagi dalam melakukan bisnis
atau memanajemeni perusahaan. Suatu usaha yang dilakukan tanpa keyakinan,
atau suatu bisnis yang dijalankan tanpa kepercayaan diri tidak akan memberi
manfaat pada siapa pun. Karena itu seorang manajer yang bersemangat dan
sungguh-sungguh hendaklah mengembangkan prinsip-prinsip yang dengan mantap
bisa mengangkat keyakinan perusahaannya secara keseluruhan.
Salah satu cara dalam bertahan pada prinsip-prinsip tertentu - bagaimana pun
pentingnya prinsip tersebut - ialah dengan berusaha memperoleh dukungan atas
prinsip itu. Bukan dengan memaksakannya pada siapa pun. Hal ini hendaklah
dilandaskan pada kerendahan hati. Cobalah anda lihat contoh orang-orang yang
mengalami kegagalan dalam bisnis. Walau pun tidak selalu, tetapi kegagalan
mereka dalam bisnis sering diakibatkan karena tidak adanya kerendahan hati
dalam diri mereka. Dan sebaliknya, jika yang memiliki keyakinan itu adalah
orang yang rendah hati, maka keyakinan itu akan tumbuh secara perlahan, lalu
mengkristal menjadi prinsip yang positif dan mantap. Dan acapkali prinsip
inilah yang membimbing orang itu dalam mengejar sasarannya.
Seseorang yang bekerja memimpin orang lain, tidak boleh tidak, haruslah
membalut keyakinannya dengan rendah hati. Bila mereka tidak memiliki
kerendahan hati, maka mereka tidak akan mengetahui apakah sikap atau
tindakannya itu salah. Sebab jarang sekali ada anak buah yang berani
menunjukkan kesalahan atasannya. Itulah sebabnya mengapa mereka senantiasa
harus memeriksa sikap diri mereka.
Orang-orang yang memiliki kerendahan hati bisa mendeteksi kebesaran dalam
diri orang lain. Dan sebagai konsekuensi, mereka bisa mengenali apakah anak
buah lebih trampil dari mereka. Jika anda mengasumsikan bahwa anak buah
anda - karena mereka adalah bawahan - kurang trampil atau kurang berbakat
dibanding dengan anda, maka ini adalah tanda bahwa dalam diri anda tidak ada
rasa rendah hati. Memang tidak semua karyawan superior, tapi rendah hati
akan memungkinkan anda untuk menghargai hal-hal baik yang ada pada diri
mereka. Dan ini memungkinkan anda untuk lebih cakap dalam mempergunakan diri
mereka dan gagasan mereka. (diadaptasi dari Kumpulan Karangan Konosuke
Matsushita)
Masa muda adalah masa yang penuh dengan gejolak dan emosi. Masa pencarian jati diri, ingin diakui dan perasaan menggebu ingin mencoba sesuatu yang baru. Namun sebenarnya di masa inilah karakter dan masa depan seseorang dibentuk. Aktualisasi diri di masa ini membuat kita sadar akan tujuan hidup kita. Banyak yang menemukan tujuan hidupnya, banyak juga yang hidup hanya sekedar melalui hari demi hari tanpa arah yang pasti.
Masa muda yang sukses adalah masa muda yang di manfaatkan untuk mencari ilmu dan pengalaman positif sebanyak mungkin. Namun, kebanyakan pemuda menganggap masa ini adalah masa yang indah untuk mendekati lawan jenis, untuk hura-hura, every day dugem, dan lain-lain. Hal itu sangat umum terjadi di mana saja, baik di kota maupun di desa. Apalagi di jaman sekarang, yang mana nilai-nilai moral sudah mulai bergeser dan ditinggalkan. Banyak dari mereka terpengaruh mode, trend, dan suguhan media televisi yang sering tidak mendidik.
Saya prihatin dengan pergaulan bebas muda-mudi sekarang. Sepertinya bangsa yang dulu terkenal berbudi luhur dan religius, kini harus mulai menata kembali pendidikannya. Segala yang glamour dan wahh jadi idola, maksiat jadi kebanggaan, popularitas dikejar-kejar, pergaulan bebas ala binatang merajalela, bahkan mulai meracuni para pelajar. Sementara prestasi yang positif jarang dipublikasikan, seperti jadi barang kuno saja.
Mau ke mana ya kaki ini melangkah? Ke tempat A, acaranya cuma hura-hura; ke tempat B pesta miras dan narkoba… Dengan si A, sukanya nongkrong; dengan si B, makan ati, pacaran melulu…
Kenapa bingung sahabat…? Kenapa kita harus sama dengan mereka? Bukankah kita mempunyai impian sukses sendiri. Mereka tak akan membantu mewujudkan impian sukses kita. Jadi, beranikah Anda untuk tampil lain dari yang lain, demi mengejar impian kita. Beranikah Anda tampil beda?
Sibukkan diri kita menuntut ilmu, sementara teman-teman nongkrong di mall atau tempat hiburan lainnya. Sibukkan diri kita untuk belajar bisnis, sementara yang lain pergi ke pesta atau diskotik. Teman-teman sibuk pacaran, sibukkan diri kita mengikuti seminar investasi atau seminar MLM. Biasakan kita rajin berolah raga, sementara kebanyakan orang malas-malasan. Jadikan diri kita taat beribadah, sementara kebanyakan orang ingat Tuhan hanya kalau lagi susah. Pendek kata, kalau kegiatan itu positif, kenapa tidak kita lakukan, walau kebanyakan orang enggan melakukan. Walau awalnya sendirian, pasti nanti kita akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita.
Kalau tidak ingin menjadi orang rata-rata, maka beranikan diri tampil beda, melakukan pekerjaan sebaik-baiknya, melakukan pekerjaan menantang yang banyak dijauhi orang. Membuka lapangan kerja contohnya, atau berwiraswasta. Dari pada pusing cari kerja, sementara unemployment di mana-mana, lapangan kerja sangat terbatas. Beranikah kita tampil beda, dengan menjadi solusi bagi mereka, atau minimal bagi diri sendiri…? Bagi yang sudah bekerja di bidang apa saja, beranikah Anda tampil beda dengan melakukan tugas sebaik-baiknya? Menjadi yang terbaik di bidang Anda…
Sukses menantang keberanian dan kerja keras kita, beranikah kita tampil beda, dengan menjemputnya di barisan paling depan. Dalam pendidikan, karier, bisnis, sosial-politik, dan semua aspek kehidupan; beranikah kita tampil beda, menjadi di atas rata-rata? Mengutip ceramah Dato’ Dr. H. Mohd Fadzilah Kamsah dari Malaysia, “Orang cemerlang suka lakukan apa yang orang gagal tak suka lakukan…!”
Selamat meraih sukses yang luar biasa!
Sudut Editor:
WORKAHOLIC
1. Setiap hari Budi bekerja di kantor hingga pukul 7-8 malam, padahal jam kerjanya usai pukul 5 sore. Sesampainya di rumah, ia pun masih melanjutkan mengerjakan macam-macam tugas hingga tengah malam. Bukan cuma itu,seringkali Budi menghabiskan akhir pekannya di kantor. Terkadang, di sela-sela liburan panjang ia menyempatkan membawa pekerjaan kantornya pulang. Tak heran bila atasannya senang dan tak segan-segan memberikan
berbagai penghargaan, baik berupa gaji, fasilitas, jabatan, tanggung jawab dan wewenang yang tinggi. Atasannya menilai Budi sebagai seorang pekerja keras dan loyal. Namun, beberapa anggota keluarga dan rekan-rekannya menganggap Budi sebagai orang yang “gila kerja”, “kecanduan kerja” atau “workaholic” . Dan memang seringkali tanda-tanda pekerja keras atau hardworker hampir serupa dengan seorang workaholic. Ciri yang paling menonjol adalah mereka bekerja lebih panjang dari pekerja biasa, selalu tampak sibuk, dan seolah tak memiliki kehidupan lain selain kehidupan kerja. Yang ada dalam benak mereka di hampir setiap saat adalah kerja, kerja, kerja
dan kerja. Kebanyakan orang menganggap workaholic sebagai kelainan. Itu tak lepas dari kata workaholic sendiri yang merupakan perpaduan dua kata: work + aholic.
Tambahan aholic berasal dari modifikasi kata alcoholic yang biasa diartikan sebagai orang yang menderita kecanduan alkohol. Maka, workaholic adalah seseorang yang menderita kecanduan kerja. Istilah ini diperkirakan muncul pada pertengahan tahun 1960-an, dimana era industrialisasi sedang gencar melanda ke seluruh penjuru dunia, yang membawa pada perubahan kehidupan sosial dan ekonomi. Perubahan cara pandang ini membuat banyak orang berlomba-lomba mengejar kemakmuran ekonomi melalui industri. Selain itu, berbagai macam bentuk aktualisasi diri manusia pun mengalami pergeseran.
Bekerja yang sebelumnya dianggap untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekarang menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan pengakuan diri. Apalagi salah satu dampak globalisasi adalah semakin ketatnya persaingan. Bekerja pun menjadi alat untuk memenangkan persaingan.
Tampaknya tidak ada pecandu yang paling disukai oleh atasan selain kecanduan kerja, atau workaholic. Kita mungkin menyingkirkan jauh-jauh pecandu narkotika, pecandu minuman keras atau pecandu-pecandu lain. Namun, pecandu kerja selalu mendapat tempat di dalam perusahaan. Malah bila perlu dijaga
baik-baik. Meski demikian, berbagai literatur psikologi jelas-jelas memasukkan workaholic sebagai salah satu bentuk “penyakit”, kelainan kejiwaan, sesuatu yang tidak normal. Para workaholic, sebagaimana orang-orang yang kecanduan alkohol, merasa menderita bila tidak bekerja. Mereka mengalami tubuh lemas, kepala nyeri, kebingungan, atau ketidakstabilan emosi. Para ahli jiwa mengidentifikasikan bahwa sebagian besar penderita workaholic merupakan orang-orang dengan kepribadian tipe A.
Selain kepribadian, gaya hidup dan tuntutan pekerjaan dapat pula mendorong orang menjadi workaholic. Yang jelas, para workaholic bekerja di luar batas manusia normal, sehingga mereka tidak memiliki kehidupan yang normal.
Ketidkanormalan mereka boleh jadi mengganggu kehidupan normal orang lain. Dan, pantas saja bila mereka dianggap orang yang tidak normal, dan masuk dalam pembicaraan para ahli jiwa.
2. Dilihat dari satu sisi, para workaholic menunjukkan banyak hal yang luar biasa. Mereka memiliki tingkat expectancy yang tinggi. Bila perusahaan meminta 5, mereka tidak segan untuk mengupayakan agar bisa meraih 10. Mereka juga mematok standard kinerja yang tinggi, malah hampir-hampir selalu dalam
bentuk perfectionist. Ketahanan bekerja mereka pun luar biasa. Mereka sanggup bekerja dalam jangka waktu yang panjang sambil tetap menjaga konsentrasi. Rasa bersaing dan keinginan untuk memenangkan sesuatu juga merupakan keunggulan yang dimiliki oleh para workaholic. Meski demikian, tak sedikit mereka memiliki hubungan sosial yang hangat, tentu yang berkaitan
dengan pekerjaannya. Perusahaan mana yang tak ingin memiliki karyawan yang selalu memberikan lebih dari yang diharapkan, dengan kualitas yang tinggi pula, tahan secara fisik dan mental serta loyal memperjuangkan kepentingan perusahaan. Mereka akan menjadi “mesin” berdaya dorong jet yang akan
melejitkan dan memenangkan perusahaan di tengah persaingan.
Dilihat dari sisi yang lain, kehadiran para workaholic dalam perusahaan mungkin dapat menimbulkan “gangguan” pada lingkungan kerja. Expectancy yang tinggi mungkin dianggap tidak masuk akal dan berlebih-lebihan oleh kebanyakan karyawan lain. Standard kinerja yang tinggi atau perfectionist
bisa jadi terlalu mengada-ngada. Umumnya tidak mudah bagi karyawan untuk bisa memahami kualitas kerja yang diharapkan oleh perusahaan, apalagi yang dipatok oleh para workaholic. Biasanya mereka mempunyai tingkat toleransi sedemikian rupa yang mengijinkan kesalahan-kesalahan kecil terjadi. Selain
itu, keluhan yang paling banyak dari karyawan pada para workaholic adalah jam kerja yang kelewatan. Setiap orang memiliki paradigma sendiri dalam memandang apa makna kerja. Berbondong-bondongn ya mereka pulang begitu jam
kerja usai, sama sekali bukan mengindikasikan loyalitas yang rendah pada perusahaan, namun mereka mengharapkan hadir dalam kehidupan lain di luar pekerjaan mereka. Dan itu, tak kurang berartinya bagi keseimbangan hidup mereka. Sama halnya ketika mereka berbicara tentang persaingan. Kehidupan adalah kehidupan. Mengalir begitu saja. Menceburkan diri ke dalam arena persaingan yang terlalu ketat mungkin mengganggu ketentraman jiwa dan irama yang sebenarnya telah harmonis.
Menciptakan keseimbangan memang tidak mudah. Bertahan di tengah-tengah pertentangan selalu sulit. Namun disitulah letak tantangannya. Meski banyak keluarbiasaan yang ditunjukkan oleh para pekerja keras dan workaholic,banyak perusahaan yang tidak begitu saja menerima mereka mentah-mentah.
Banyak perusahaan menyadari bahwa mereka pun sebenarnya turut
bertanggungjawab atas “gangguan” yang mungkin timbul dari para workaholic ini. Bukan cuma gangguan dalam lingkungan kerja namun gangguan yang seringkali dikeluhkan oleh keluarga para workaholic. Memang sangat tidak mudah memahami apa yang ada dalam benak para workaholic. Tak sedikit perusahaan merasa perlu mendatangi para ahli yang mampu memberikan terapi
yang tepat. Semua ini dilakukan semata-mata agar tercipta keseimbangan pribadi dan lingkungan yang baik. Kemajuan suatu usaha bukan karena seberapa cepat perusahaan itu melejit, namun lebih pada bagaimana bisa tetap melaju di lintasan pacu.
3. William Faulkner pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang dapat dilakukan seseorang selama delapan jam sehari adalah bekerja. Manusia tidak dapat makan, minum atau bercinta selama delapan jam terus-menerus, namun manusia mampu bekerja tanpa henti selama itu. Entah apa yang dimaksudkan oleh William Faulkner tersebut, namun ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kodrat manusia. Dengan alasan itulah manusia hadir di bumi, untuk menguasai dan memakmurkannya. Ada orang bijak yang menyebutnya sebagai khalifah. Terlepas dari semua itu, bekerja membuat manusia menjadi terhormat. Kita mungkin bisa
merasakan betapa tidak enaknya atau malah terhinanya menjadi pengangguran.
Atau dalam bahasa Y.B. Mangunwijaya, “justru dengan dan mengalami kerja itu sendiri, manusia semakin menjadi manusia yang utuh, matang dewasa; menjadi manusia berkebudayaan, berkepribadian. ” Namun dalam kenyataan sehari-hari, kita bisa menemukan banyak orang bekerja sedemikian rupa seolah jauh dari apa yang disebut dengan manusia yang utuh,matang, dewasa, berkebudayaan dan berkepribadian. Mereka bekerja seolah penuh kehausan unuk memenuhi kebutuhan dirinya. Tentu sangat jauh berbeda antara bekerja sebagai perwujudan aktualisasi diri manusiawi dengan bekerja bagai mesin tiada henti. Bekerja memang berat, susah, penuh pengorbanan dan sumber kekecewaan. Namun, seharusnyalah bekerja juga menjadi sumber kebahagiaan dan kepuasan kita karena telah memenuhkan kodrat kita. Dan,
memang bukan kodrat kita untuk bekerja tiada henti, seolah tak ada puasnya, agar memenuhi keinginan (mungkin nafsu) sebanyak mungkin, atau mengalahkan siapa saja. Bekerja seharusnya untuk mencurahkan kemampuan dan bakat kita yang unik demi larasnya keseluruhan masyarakat sekeliling, dan akhirnya demi sumbangan kita untuk suatu dunia baru yang semakin maju, meningkat, dan
laras harmonis.
Lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang memberikan makna hakiki tersebut pada setiap proses dan hasil kerja. Setiap karyawan bisa memahami betul apa makna kerja mereka. Untuk itu diperlukan suatu visi dan budaya perusahaan yang luar biasa kuat, yang biasanya baru bisa tersusun setelah mengalami pergulatan pemikiran dan perenungan filosofis yang
panjang. Ada seorang pemikir yang menyebut proses ini sebagai pencarian spiritualitas atau religiositas dalam ruang kerja. Dalam lingkungan kerja yang demikian, seorang pekerja, juga seorang workaholic, menemukan bahwa bekerja merupakan salah satu sumber keseimbangan hidup mereka. Bukan menjadi pengganggu harmoni. Workaholic yang mengejar kerja demi kepuasan diri adalah betul-betul keterasingan, dan dipinggirkan oleh arus besar keselarasan.
4. Salah seorang pengusaha yang mengagumkan, Konosuke Matsushita mengemukakan 7 kode etos sebagai prinsip kerja di Matsushita Electric, perusahaan yang didirikannya pada tahun 1917, yaitu:
1–semangat untuk melayani masyarakat kelalui industri,
2–semangat untuk berlaku jujur,
3–semangat untuk menciptakan suasana harmoni dan kerjasama,
4–semangat untuk meraih kemajuan,
5–semangat untuk sopan dan rendah hati,
6–semangat untuk seiring dengan hukum alam,
7–semangat untuk bersyukur.
Kiranya demikianlah bilamana seseorang telah menemukan bahwa kerja bukan hanya demi sesuap nasi, tetapi juga demi nilai-nilai.